Analisis Kepribadian pada iklan

Honda Blade: ”Winning With Blade”

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Di dunia ini tidak ada manusia yang sama persis baik dalam kepribadian, sifat dan karakter. Oleh karena itu memahami kepribadian konsumen adalah penting bagi pemasar karena kepribadian bisa terkait dengan perilaku konsumen. Adanya perbedaan dalam kepribadian konsumen tersebut akan mempengaruhi perilakunya dalam memilih atau membeli produk karena konsumen akan membeli barang yang sesuai dengan kepribadiannya.

Kepribadian berkaitan dengan adanya perbedaan karakteristik yang paling dalam pada diri manusia sedangkan perbedaan karakteristik tersebut menggambarkan ciri yang unik dari masing-masing individu sehingga.

Tujuan

Dengan mempelajari kepribadian, para pemasar dapat mengetahui perilaku konsumen agar pemasar dapat merancang komunikasi yang sesuai dengan sasaran konsumen yang dituju. Singkatnya, pemahaman terhadap kepribadian sangat bermanfaat bagi pemasar karena kepribadian dapat dijadikan dasar dalam melakukan pemangsaan pasar.

Mempelajari kepribadian konsumen juga sangat penting dalam hal produksi suatu barang yang sesuai dengan keinginan konsumen.

TINJAUAN PUSTAKA

Kepribadian menurut tokoh psikologi terkemuka Gordon Allport bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.

Sedangkan menurut Ujang Sumarwan kepribadian berkaitan dengan adanya perbedaan karakteristik yang paling dalam pada diri manusia, perbedaan karakteristik tersebut menggambarkan ciri unik dari masing-masing individu. Perbedaan karakteristik akan mempengaruhi respon individu terhadap lingkungannya secara konsisten. Perbedaan karakteristik akan mempengaruhi perilaku individu tersebut. Individu dengan karakteristik yang sama cenderung akan bereaksi yang relatif sama terhadap situasi lingkungan yang sama. Kepribadian juga menggambarkan respon yang konsisten.

Hal-hal yang berkaitan dengan kepribadian:

  1. kepribadian menggambarkan perilaku individu
  2. kepribadian menunjukkan konsistensi dan berlangsung lama
  3. kepribadian dapat berubah

Ada tiga teori kepribadian yang utama yaitu (1) teori kepribadian Freud, (2) teori kepribadian Neo-Freud, (3) teori ciri. Ketiga teori tersebut dianggap banyak dipakai sebagai landasan teori dalam studi hubungan perilaku konsumen dan kepribadian.

1. Teori Kepribadian Freud disebut teori psikoanalitis personality. Teori ini dianggap sebagai landasan dari psikologi modern. Teori ini menyatakan bahwa kebutuhan yang tidak disadari atau dorongan dari diri manusia seperti orongan seks dan kebutuhan biologis adalah inti dari motivasi dari kepribadian manusia. Menurut freud kepribadian manusia  terdiri dari tiga unsur yang saling berinteraksi, yaitu id, ego, dan superego.

2. Teori Neo-Freud disebut teori sosial psikologi. Menurut teori ini kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan motivasi berperilaku diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya.

3. Teori Ciri, menggunakan pendekatan kuantitatif dalam mengukur kepribadian konsumen. Teori ini juga mengklasifikasikan manusia ke dalam karakteristik atau sifat / cirinya yang menonjol

Dengan mengetahui kepribadian konsumen, pemasar dapat merancang komunikasi yang sesuai dengan sasaran konsumen yang dituju, sehingga konsumen dapat menerima produk atau jasa yang dipasarkan tersebut. Pemasar mengharapkan konsumen menilai produk atau jasa tersebut adalah sesuai dengan kepribadiannya dan akhirnya pembeli menggunakan produk/jasa tersebut.

PEMBAHASAN

Penggunaan sepeda motor saat ini telah mengalami peningkatan. Produsen pun berlomba-lomba menarik hati konsumen dengan menawarkan berbagai fitur, design serta warna yang beraneka ragam dengan tujuan segmentasi pasar  tertentu. Pada saat ini, pasar motor sendiri telah di dominasi oleh Honda dengan motor bebek <125 cc, namun untuk memperkuat dominasi, Honda membuat inovasi baru dengan kapasitas 110 cc.

Dengan itu PT. Astra Honda Motor meluncurkan produk terbarunya yaitu Honda Blade yang memiliki jargon ”Winning with Blade”. Jargon ini memiliki arti sebagai pemenang dalam kompetisi di kelasnya. Dari jargon tersebut ada tiga faktor yang ingin dicapai, yaitu Winning Style, Winning Performance, dan Winning Personality.

Winning Style tercerminkan dari bentuk dan tampilan motor Honda itu sendiri. Hal ini yang membuat Honda Blade terlihat sporty. Sedangkan Winning Performance tercerminkan dari mesin yang digunakan sehingga Honda Blade lebih irit, gesit dan lincah. Dan yang terakhir Winning Personality, yaitu tercerminkan untuk orang-orang yang menyukai kemudahan, kenyamanan dan keamanan dalam berkendara.

Jika dilihat dari segi harga Honda Blade memang lebih mahal dibandingkan dengan harga motor bebek sekelasnya. Namun hal itu dikarenakan Honda Blade menawarkan fitur-fitur yang mengedepankan kualitas. Selain itu, Honda Blade memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh motor lain.

Dalam komunikasi pemasaran Honda Blade ini, pengiklan menggunakan konsep kepribadian untuk mengkomunikasikan produknya sehingga memiliki  positioning sesuai dengan kepribadian konsumen yang dituju, yaitu konsumen yang berjiwa muda, aktif, menyukai tantangan dan ingin tampil beda sehingga jargon yang dipilih Honda Blade pun Winning with Blade.

Dalam iklan Honda Blade berusaha mengungkapkan produknya sebagai produk yang sesuai untuk konsumen yang aktif dan sporty. Kami mengklasifikasikan iklan Honda Blade ini ke dalam aplikasi dari Teori Ciri.

KELOMPOK USAHA BERSAMA

(KUBE)

  1. Pengertian KUBE

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) adalah kelompok warga atau keluarga binaan sosial yang dibentuk oleh warga atau keluarga binaan sosial yang telah dibina melalui proses kegiatan PROKESOS untuk melaksanakan kegiatan kesejahteraan sosial dan usaha ekonomi dalam semangat kebersamaan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya. KUBE merupakan metode pendekatan yang terintegrasi dan keseluruhan proses PROKESOS dalam rangka MPMK.

KUBE tidak dimaksudkan untuk menggantikan keseluruhan prosedur baku PROKESOS kecuali untuk Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Fakir Miskin yang mencakup keseluruhan proses. Pembentukan KUBE dimulai dengan proses pembentukan kelompok sebagai hasil bimbingan sosial, pelatihan ketrampilan berusaha, bantuan stimulans dan pendampingan.(Departemen Sosial RI 2010)

  1. Tujuan dan Sasaran
    Tujuan KUBE diarahkan kepada upaya mempercepat penghapusan kemiskinan, melalui :

    1. Peningkatan kemampuan berusaha para anggota KUBE secara bersama dalam kelompok
    2. Peningkatan pendapatan
    3. Pengembangan usaha
    4. Peningkatan kepedulian dan kesetiakawanan sosial diantara para anggota KUBE dan dengan masyarakat sekitar.

Sasaran PROKESOS dalam kaitan dengan kebijakan MPMK adalah PMKS yang hidup dibawah garis kemiskinan dengan rincian sebagai berikut :

  1. Keluarga Fakir Miskin yang dibina melalui Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Fakir miskin
  2. Kelompok Masyarakat Terasing yang dibina melalui Program Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing.
  3. Para Penyandang Cacat yang dibina melalui Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat
  4. Lanjut Usia yang dibina melalui Program Pembinaan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia
  5. Anak Terlantar yang dibina melalui Program Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Terlantar
  6. Wanita Rawan Sosial Ekonomi yang dibina melalui Program Peningkatan Peranan Wanita di Bidang Kesejahteraan Sosial
  7. Keluarga Muda Mandiri yang dibina melalui Program Pembinaan Keluarga Muda Mandiri
  8. Remaja dan Pemuda yang dibina melalui Program Pembinaan Karang Taruna
  9. Keluarga Miskin di Daerah Kumuh yang dibina melalui Program Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK).
  10. Proses Pembantukan KUBE

Selain KUBE yang ditumbuhkembangkan melalui Program Bantuan Kesejahteraan Fakir Miskin, langkah / kegiatan pokok pembentukan KUBE untuk sasaran PMKS lainnya adalah :

  1. Pelatihan ketrampilan berusaha, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan praktis berusaha yang disesuaikan dengan minat dan ketrampilan PMKS serta kondisi wilayah, termasuk kemungkinan pemasaran dan pengembangan basil usahanya. Nilai tambah lain dari pelatihan adalah tumbuhnya rasa percaya diri dan harga diri PMKS untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dan memperbaiki kondisi kehidupannya
  2. Pemberian bantuan stimulan sebagai modal kerja atau berusaha yang disesuaikan dengan ketrampilan PMKS dan kondisi setempat. Bantuan ini merupakan hibah (bukan pinjaman atau kredit) akan tetapi diaharapkan bagi PMKS penerima bantuan untuk mengembangkan dan menggulirkan kepada warga masyarakat lain yang perlu dibantu
  3. Pendampingan, mempunyai peran sangat penting bagi berhasil dan berkembangnya KUBE, mengingat sebagian besar PMKS merupakan kelompok yang paling miskin dan penduduk miskin. Secara fungsional pendampingan dilaksanakan oleh PSK yang dibantu oleh infrastruktur kesejahteraan sosial di daerah seperti Karang Taruna (KT), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Organisasi Sosial (ORSOS) dan Panita Pemimpin Usaha Kesejahteraan Sosial (WPUKS).
  4. 4. Organisasi dan Manajemen
    1. Kepengurusan KUBE
  • Pada hakekatnya KUBE dibentuk dari, oleh dan untuk anggota kelompok
  • Pengurus KUBE dipilih dari anggota kelompok yang mau dan mampu mendukung pengembangan KUBE, memiliki kualitas seperti kesediaan mengabdi, rasa keterpanggilan, mampu mengorganisasikan dan mengkoordinasikan kegiatan anggotanya, mempunyai keuletan, pengetahuan dan pengalaman yang cukup serta yang penting adalah merupakan hasil pilihan dari anggotanya
  1. Keanggotaan KUBE
  • Anggota KUBE adalab PMKS sebagai sasaran program yang telah disiapkan. Jumlah anggota untuk setiap KUBE berkisar antara 5 sampai 10 orang / KK sesuai dengan jenis PMKS
  • Khusus untuk Pembinaan Masyarakat Terasing dan Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh pembentukan KUBE berdasarkan unit pemukiman sosial, artinya suatu unit pemukiman sosial adalah satu KUBE
  1. Administrasi KUBE
  • Untuk dapat berjalan dan berkembangnya KUBE dengan baik, maka pengurus maupun pengelola KUBE perlu memiliki catatan atau administrasi yang baik, yang mengatur keanggotaan, organisasi, kegiatan, keuangan, pembukuan dan lain sebagainya
  • Catatan dan administrasi KUBE meliputi antara lain buku anggota, buku peraturan KUBE, pembukuan keuangan / pengelolaan hasil, daftar pengurus dan sebagainya
  1. Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi

Pembinaan dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan dayaguna dan hasilguna penumbuhan dan pengembangan KUBE, disamping meningkatkan motivasi dan kemampuan pelaksanaan dilapangan serta kapasitas manajemen pengelola KUBE. Pembinaan dilaksanakan oleh petugas sosial wilayah mulai dan tingkat propinsi, kabupaten / kodya, kecamatan dan desa / kelurahan secara berjenjang

Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan KUBE dan permasalahan yang merupakan hambatan serta upaya pemecahannya, sehingga upaya penumbuhan dan pengembangan KUBE berjalan sesuai dengan rencana

Kegiatan monitoring dan evaluasi beserta pelaporannya dilaksanakan melalui mekanisme secara berjenjang mulai dan tingkat desa, kecamatan, kabupaten / kodya, propinsi dan pusat dalam koordinasi Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL) PROKESRA secara berjenjang.

Analisis KUBE

Kegiatan Sosial yang telah dijalankan KUBE (Kelompok Usaha Bersama), diantaranya :

  1. Pemberdayaan social keluarga fakir miskin melalui KUBE

Masalah kemiskinan perlu ditangani secara lintas sektoral, berkesinambungan dan sinergis. Hal ini dikarenakan masalah kemiskinan merupakan sumber muncul dan berkembangnya permasalahan-permasalahan sosial yang lainnya, seperti anak terlantar, pengemis, gelandangan, keluarga berumah tak layak huni, tuna susila dan sebagainya. Oleh karena itu masalah kemiskinan merupakan masalah yang harus ditangani secara serius baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Upaya pemenuhan kesejahteraan sosial menyeruak ke permukaan dan menjadi isu nasional. Asumsinya, kemajuan suatu bangsa tidak lagi dilihat dari sekedar meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi belaka. Kemampuan penanganan terhadap para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)pun menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan.

Salah satu upaya penanganan pemerintah, dalam hal ini Departemen Sosial dalam penanggulangan kemiskinanan melalui kegiatan Pemberdayaan Keluarga fakir Miskin, dalam konteks peningkatan kapasitas para penerima pelayanan sosial (kelayan) agar mereka memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, menjangkau pelayanan sosial serta berperan serta dalam kehidupan masyarakat secara mandiri. Dengan demikian mereka harus diberikan penguatan agar dapat berdaya.

Pemberdayaan tersebut secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial keluarga fakir miskin.

Program penguatan yang dilakukan diantaranya berbentuk Usaha Ekonomis Produktif (UEP), baik di bidang warungan/jualan, perikanan, peternakan, perbengkelan, pembuatan tutup limun dan sebagainya. Agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan berkesinambungan dalam pengelolaan usahanya, maka mereka yang mendapatkan bantuan diorganisir/dihimpun melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yaitu wadah yang menghimpun dan mengelola keluarga binaan sosial yang telah mendapatkan bantuan sarana usaha dari pemerintah sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan/kehidupannya.

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebagai Program kesejahteraan Sosial (Prokesos) yang diluncurkan oleh pemerintah RI sejak tahun 1990. KUBE dibentuk dengan harapan agar para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang terdapat di Indonesia dapat tereliminir sedikit demi sedikit. KUBE merupakan metode pendekatan yang terintegrasi dari keseluruhan proses PROKESOS dalam rangka MPMK. KUBE tidak dimaksudkan tidak dimaksudkan untuk menggantikan keseluruhan prosedur baku PROKESOS, kecuali untuk Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Fakir Miskin yang mencakup keseluruhan proses.

Program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang ada selama ini dapat berkembang menjadi usaha ekonomi produktif yang dapat memberikan profit sehingga KUBE tersebut tidak saja memberikan manfaat bagi anggotanya saja, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi warga masyarakat lainnya. Untuk dapat berkembang menjadi usaha ekonomi produktif yang menguntungkan, KUBE sangat tergantung dengan manajemennya. Dengan pengelolaan secara bersama-sama bukan tidak mungkin KUBE akan berkembang menjadi sebuah bidang usaha yang menguntungkan.

Pengembangan KUBE diarahkan pada jenis usaha yang memiliki prospek yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip tersebut, diharapkan KUBE dimasa yang akan datang bisa berkembang menjadi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang mandiri di tingkat Desa/Kelurahan yang mampu mengangkat penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya untuk mengentas dari kemiskinan.

2. Pemberdayaan KUBE melalui usaha produktif

    Pengentasan kemiskinan melalui program pemberian Bantuan terus dilakukan oleh Pemerintah melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Melalui program bantuan ini, diharapkan bisa mengurangi jumlah masyarakat miskin yang berada di daerah-daerah kantong kemiskinan seperti yang dilakukan di Kabupaten Bondowoso

    Sebanyak 75 ekor sapi diberikan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur secara langsung kepada masyarakat di 3 Desa yang tersebar di Kabupaten Bondowoso. Yakni, Tegal Ampel (50 KK) , Purnama (50KK) dan Klabang Agung (50 KK). Melalui KUBE (Kelompok Usaha Bersama), Selanjutnya 50 KK mendapat 25 ekor sapi, itu artinya setiap KK mendapatkan 1 ekor sapi untuk diberdayakan.

    Pemberian sapi ini merupakan kepedulian pemerintah, sebagai upaya mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Bondowoso, untuk itu kami berharap masyarakat bisa memanfaatkannya secara maksimal.Selanjutnya dilakukan pola monitoring dan evaluasi untuk mengukur Indikator keberhasilan KUBE. Parameternya adalah, keberhasilan Keluarga Binaan Sosial dalam memberdayakan sapi secara ekonomi.

    3. Bantu modal melalui KUBE

      Terkait masalah penanganan kemiskinan, berbagai program telah dicanangkan seperti pemberian modal barang dan usaha diantaranya melalui program Kelompok Usaha Bersama (Kube). Budihardjo, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DKI, mengungkapkan sedikitnya terdapat 789 Kube yang telah menerima dana bantuan tersebut sejak tahun 2000. Pada 2010, ditargetkan 130 hingga 150 kelompok akan menyusul.

      Tidak hanya itu setelah dilakukan pelatihan dan pemberian dana pengembangan usaha, PMKS juga akan difasilitasi untuk memasarkan produknya. Dengan mengikutsertakan produk mereka dalam pameran dan bazaar Hari Kesetiakawanan Sosial.

      PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK

      A. Definisi Bahasa

      bahasa adalah simbolisasi dari ide atau pemikiran yang ingin dikomunikasikan kepada orang lain dalam bentuk kode-kode tertentu baik verbal ataupun non-verbal.

      B. Tiga tahapan perkembangan bahasa menurut Lundsteen ;

      1. Tahap pralinguistik
      – 0-3 bulan, bunyinya di dalam (meruku) dan berasal dari tenggorok.
      – 3-12 bulan, meleter, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.

      2. Tahap protolinguitik
      – 12 bulan-2 tahun, anak sudah mengerti dan menunjukkan alat-alat tubuh. Ia mulai berbicara beberapa patah kata (kosa katanya dapat mencapai 200-300).

      3. Tahap linguistik
      – 2-6 tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan kosa katanya mencapai 3000 buah.

      Periode tahap linguistik dibagi menjadi tiga ;

      • Fase satu kata atau Holofrase

      Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, baik yang berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa pcrbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kita tahu dalam konteks apa kata tersebut diucapkan, sambil mengamati mimik (raut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diucapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.

      • Fase lebih dari satu kata

      Fase dua kata muncul pada anak berusia sekitar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan untuk dirinya sendiri. Mulailah mengadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.

      • Fase ketiga adalah fase diferensiasi

      Periode terakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Ketcrampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.

      a. Bahasa Tubuh

      Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa salah satu jenis bahasa adalah bahasa tubuh. Bahasa tubuh adalah cara seseorang berkomunikasi dengan mempergunakan bagian-bagian dari tubuh, yaitu melalui gerak isyarat, ekspresi wajah, sikap tubuh, langkah serta gaya tersebut pada umumnya disebut bahasa tubuh. Bahasa tubuh sering kali dilakukan tanpa disadari. Sebagaimana fungsi bahasa Iain, bahasa tubuh juga merupakan ungkapan komunikari anak yang paling nyata, karena merupakan ekspresi perasaan serta keinginan mereka terhadap orang lain, misalnya terhadap orang tua (ayah dan ibu) saudara dan orang lain yang dapat memahami atau mengerti akan pikiran anak. Melalui bahasa tubuh anak, orang tua dapat mempelajari apakah anaknya menangis karena lapar, sakit, kesepian atau bosan pada waklu tertentu.

      b. Bicara

      Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Semenjak anak masih bayi sering kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun hal tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil selalu berusaha agar orang lain mengerti maksudnya. Hal ini yang mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain yang. dipakai anak sebelum pandai berbicara. Oleh karena bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga berfungsi untuk mencapai tujuannya, misalnya:

      1) Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan

      Dengan berbicara anak mudah untuk menjelaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh orang tua atau lingkungannya tidak mengerti apa saja yang dimaksudkan oleh anak.

      2) Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain

      Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang lain. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide, sekalipun sering kali tidak masuk akal-bagi orang tua, dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi. Sehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya.

      3) Sebagai alat untuk membina hubungan sosial

      Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak Iebih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat memperoleh kesempatan Iebih banyak untuk mendapat peran sebagai pcmimpin dari suatu kelompok, jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.

      4) Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri

      Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.

      5) Untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain

      Anak yang suka, berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Sebaliknya bagi anak yang suka mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan modal utama bagi anak agar diterima dan mendapat simpati dari lingkungannya.

      6) Untuk mempengaruhi perilaku orang lain

      Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebayanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya.

      Ada dua tipe perkembangan berbicara anak :

      1) Egosentric Speech, terjadi ketika anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara kepada dirinya sendiri (monolog). Perkembangan berbicara anak dalam hal ini sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya.

      2) Socialized Speech, terjadi ketika anak berinteraksi dengan temannya ataupun lingkungannya. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan adaptasi sosial anak.

      Berkenaan dengan hal tersebut, terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu (1) saling tukar informasi untuk tujuan bersama ; (2) penilaian terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain; (3) perintah, ancaman; (4) pertanyaan, dan (5) jawaban.

      Ada beberapa faktor yang dapat dijadikan ukuran kemampuan berbicara seseorang yang terdiri dari aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi faktor-faktor sebagai berikut: (1) ketepatan ucapan; (2) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai; (3) pilihan kata; (4) ketepatan sasaran pembicaraan. Aspek non kebahasaan meliputi (1) sikap tubuh, pandangan, bahasa tubuh, dan mimik yang tepat; (2) kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain; (3) kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara; (4) relevansi, penalaran dan penguasaan terhadap topik tertentu.

      Hurlock mengemukakan dua kriteria untuk mengukur tingkat kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar atau hanya sekedar “membeo” sebagai berikut : 1)Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkannya dengan objek yang diwakilinya 2)Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah 3)Anak memahami kata-kata tersebut bukan karena telah sering mendengar atau menduga-duga.

      Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan dua cara yaitu secara spontan, dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk meniru bahasa tersebut. Kemampuan anak untuk meniru secara spontan bahasa orang dewasa biasanya dengan mengulang kembali pernyataan yang diberikan dengan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas. Dengan demikian para peneliti dapat mengukur batasan kecakapan anak dalam memahami dan mengekspresikan kata-kata.

      c. Potensi Anak Berbicara Didukung oleh Beberapa Hal

      1) Kematangan alat berbicara

      Kemampuan berbicara juga tergantung pada kematangan alat-alat berbicara. Misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut dan Iain-lain dapat mempengaruhi kematangan berbicara. Alat-alat tersebut baru dapat berfungsi dengan baik setelah sempurna dan dapat membentuk atau memproduksi suatu kata dengan baik sebagai permulaan berbicara.

      2) Kesiapan berbicara

      Kesiapan mental anak sangat bergantung pada pertumbuhan dan kematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimulai sejak anak berusia antara 12-18 bulan, yang disebut teachable moment dari perkembangan bicara. Pada saat inilah anak betul-betul sudah siap untuk belajar. bicara yang sesungguhnya. Apabila tidak ada gangguan anak akan segera dapat berbicara sekalipun belum jelas maksudnya.

      3) Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak

      Anak dapat membutuhkan suatu model tertentu agar dapat
      melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinasikan dengan
      kata lain sehingga menjadi suatu kalimat yang berarti. Model
      tersebut dapat diperoleh dari orang lain, misalnya orang tua atau
      saudara, dari radio yang sering didengarkan atau dari TV, atau aktor
      film yang bicaranya jelas dan berarti. Anak akan mengalami
      kesulitan apabila tidak pernah memperoleh model sebagaimana
      disebutkan diatas. Dengan sendirinya potensi anak tidak dapat
      berkembang sebagaimana mestinya.
      4) Kesempatan berlatih

      Apabila anak kurang mendapatkan latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering kali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya: Pada gilirannya anak kurang memperoleh motivasi untuk belajar berbicara yang pada umumnya disebut “anak ini lamban” bicaranya.

      5) Motivasi untuk belajar dan berlalih

      Memberikan motivasi dan melatih anak untuk berbicara sangat penting bagi anak karena untuk memenuhi kebutuhannya untuk memanfaatkan potensi anak. Orang tua hendaknya selalu berusaha agar motivasi anak untuk berbicara jangan terganggu atau tidak mendapatkan pengarahan.

      6) Bimbingan

      Bimbingan bagi anak sangat. penting untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu hendaknya orang tua suka memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan pelan yang mudah diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritik atau membetulkan apabila dalam berbicara anak berbuat suatu kesalahan. Bimbingan tersebut sebaiknya selalu dilakukan secara terus menerus dan konsisten sehingga anak tidak mengalami kesulitan apabila berbicara dengan orang lain.
      d. Gangguan dalam Perkembangan Berbicara

      Di samping berbapai faktor tersebut terdapat beberapa gangguan yang harus diatasi oleh anak dalam rangka belajar berbicara.Perkembangan berbicara merupakan suatu proses yang sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang sering kali dialami oleh anak, antara lain:

      1) Anak cengeng

      Anak yang sering kali menangis dengan berlebihan dapat menimbulkan gangguan pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik, gangguan tersebut dapat berupa kurangnya energi sehingga secara otomatis dapat menyebabkan kondisi anak tidak fit. Sedangkan gangguan psikis yang muncul adalah perasaan ditolak atau tidak dicintai oleh orang tuanya, atau anggota keluarga lain. Sedangkan reaksi sosial terhadap tangisan anak biasanya bernada negatif. Oleh karena itu peranan orang tua sangat penting untuk menanggulangi hal tersebut, salah satu cara untuk mengajarkan komunikasi yang efektif bagi anak.

      2) Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain

      Sering kali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan orang tua atau anggota keluarga lain. Hal ini disebabkan kurangnya perbendaharaan kata pada anak. Di samping itu juga dikarenakan orang tua sering kali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal oleh anak. Bagi keluarga yang menggunakan dua bahasa (bilingual) anak akan lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua hendaknya selalu berusaha mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah mengintepretasikan suatu pembicaraan.

      C. Perkembangan bahasa anak dilihat dari pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya ;

      v     Perkembangan Pragmatik

      Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu buatnya.
      Usia 3 minggu bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial. Usia 12 minggu mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan Usia 2 bulan bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya. Usia 5 bulan bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari bentuk ekspresi wajah. Pada usia 6 bulan bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi dan benda-benda. Usia 7-12 bulan anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata. Usia 2 tahun anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat 2 kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru. Lewat umur 3 tahun anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran.
      Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh kesadaran sosial dalam percakapan. Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun baik dan teradaptasi baik untuk pendengar. Sebagian besar pasangan berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak mulai membangun jaringan sosial melibatkan orang di luar keluarga, mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri dan menjadi lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh bermakna pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung sepanjang usia pra sekolah.
      Anak berada pada fase mono dialog, percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Monolog kaya akan lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan ekspresi perasaan.

      v     Perkembangan Semantik

      Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang pesat pada masa pra sekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi penambahan 5 kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun. Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi pemetaan yang cepat di usia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan rujukannya. Pemetaan yang cepat adalah langkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara bertahap anak akan mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima. Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan warna, properti fungsi, properti pemakaian dan lokasi. Definisi kata kerja anak pra sekolah juga berbeda dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar. Anak pra sekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses. Anak akan mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya. Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata akan lebih meningkat, dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi akan terbentuk.

      v     Perkembangan Sintaksis

      Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa holofrastis. Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut.
      Peralihan dari kalimat satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda
      Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun, yang mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.

      Tahap perkembangan sintaksis secara singkat terbagi dalam :
      1. Masa pra-lingual, sampai usia 1 tahun
      2. Kalimat satu kata, 1-1,5 tahun
      3. Kalimat rangkaian kata, 1,5-2 tahun
      4. Konstruksi sederhana dan kompleks, 3 tahun.

      Lewat usia 3 tahun anak mulai menanyakan hal-hal yang abstrak dengan kata tanya “mengapa”,” kapan”. Pemakaian kalimat kompleks dimulai setelah anak menguasai kalimat empat kata sekitar 4 tahun.

      v     Perkembangan morfologi

      Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata, yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa.
      Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya merupakan bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia.

      v     Perkembangan fonologi

      Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia pra sekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk membedakan makna.

      Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan produksi suara.

      v Perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif

      Myklebust membagi tahap perkembangan bahasa berdasarkan komponen ekspresif dan reseptif sebagai berikut 34:

      1. Lahir – 9 bulan : anak mulai mendengar dan mengerti, kemudian berkembanglah pengertian konseptual yang sebagian besar nonverbal.
      2. Sampai 12 bulan : anak berbahasa reseptif auditorik; belajar mengerti apa yang dikatakan, pada umur 9 bulan belajar meniru kata-kata spesifik, misalnya, dada, muh, kemudian menjadi mama, papa.

      3. Sampai 7 tahun : anak berbahasa ekspresif auditorik termasuk persepsi auditorik kata-kata dan menirukan suara. Pada masa ini terjadi perkembangan bicara dan penguasaan pasif kosa kata sekitar 3000 buah.
      4. Umur 6 tahun dan seterusnya : anak berbahasa reseptif visual (membaca). Pada saat masuk sekolah ia belajar membandingkan bentuk tulisan dan bunyi perkataan.
      5. Umur 6 tahun dan seterusnya : anak berbahasa ekspresif visual (mengeja dan menulis).

      D. Mekanisme Perolehan Bahasa

      Terdapat beberapa teori mengenai perolehan bahasa pada bayi dan balita yang bersumber pada perkembangan psikologi yang bersifat natur dan nurtur. Natur adalah aliran yang meyakini bahwa kemampuan manusia adalah bawaan sejak lahir. Oleh karena itu manusia telah dilengkapi secara biologis oleh alam (natur) untuk memproduksi bahasa melalui alat-alat bicara (lidah, bibir, gigi, rongga tenggorokan, dibantu oleh alat pendengaran) maupun untuk memahami arti dari bahasa tersebut (melalui skema pada kognisi). Noam Chomsky adalah tokoh yang mempercayai peran natur secara radikal dalam perolehan bahasa. Pihak yang mempercayai kekuatan nurtur dalam perolehan bahasa berargumen bahwa bayi dan balita memperoleh bahasa karena terbiasa pada bahasa ibu. Hal ini terbukti pada pembentukan kemampuan fonem yang tergantung pada bahasa ibu. Misalkan pada bayi Jepang pada usia dibawah 6 bulan masih dapat membedakan fonem ra dan la dengan jelas, namun pada usia satu tahun mereka kesulitan untuk membedakan fonem ra dan la.Michael Tomasello mengkritik Chomsky bahwa bahasa tidak akan muncul begitu saja. Ia meyakini bahwa bahasa diperoleh karena bayi belajar menggunakan bahasa sebagai simbol terlebih dahulu dengan kemampuan bayi untuk melakukan atensi bersama (Join attention) pada saat sebelum bayi mampu memproduksi bahasa [2]. Pada dasarnya natur dan nurtur memiliki kontribusi terhadap perolehan bahasa pada bayi.

      Tahapan perolehan bahasa ;

      • Imitasi

      Imitasi dalam perolehan bahasa terjadi ketika anak menirukan pola bahasa maupun kosa kata dari orang-orang yang signifikan bagi mereka, biasanya orang tua atau pengasuh. Imitasi yang dilakukan oleh anak, tidak hanya menirukan secara persis (mimikri) hal yang dilakukan orang lain, namun anak memilih hal-hal yang dianggap oleh anak menarik untuk ditirukan.

      • Pengkondisian

      Mekanisme perolehan bahasa melalui pengkondisian diajukan oleh B.F Skinner. Mekanisme pengkondisian atau pembiasaan terhadap ucapan yang didengar anak dan diasosiasikan dengan objek atau peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu kosa kata awal yang dimiliki oleh anak adalah kata benda.

      • Kognisi sosial

      Anak memperoleh pemahaman terhadap kata (semantik) karena secara kognisi ia memahami tujuan seseorang memproduksi suatu fonem melalui mekanisme atensi bersama. Adapun produksi bahasa diperolehnya melalui mekanisme imitasi.